Hanya perkara itu saja yang selalu berulang, aku mencoba untuk selalu bertahan dan mengerti bagaimana keadaan yang menuntut hal ini terjadi. Tapi entah mengapa, aku kesulitan untuk bertahan. Aku selalu mengejar mu saat aku tidak mendapatkan perhatian dari mu.
Aku sungguh membutuh kan mu.
17 September malam, saat aku menanyakan apakah kamu tetap ingin melanjutkan hubungan ini. Jawab kamu tetap mau bersama membuat aku tau bahwa kamu masih menyayangi ku, tapi aku sedikit sedih saat kamu memberikan pilihan untuk kita mencoba break sementara waktu. Meskipun itu sepertinya hanya pernyataan angin saja.
18 September, aku ternyata masih belum puas akan hubungan ini. Masih seperti itu. Aku tetap merasa tidak memiliki kamu. Aku mengerti keadaan, tapi perasaan ku seperti kamu tidak ingin mencoba keluar dari setiap keterbatasan yang menghambat hubungan ini. Hari itu pun kamu mengajak untuk mengistirahatkan hubungan ini. Aku sepertinya tidak punya daya dan pilihan lain lagi. Dengan berat hati aku mengiyakan ajakan itu. Tapi ternyata kamu tidak mau juga, dan meminta untuk melupakannya.
Aku pikir, SEDIKIT saja ada perubahan, niat atau keingian untuk mu memperhatikan aku. Tapi nyatanya tidak. Masalah yang kamu hadapi membuat mu malas untuk berkomunikasi atau berbagi cerita kepada ku. Aku seperti tidak berfungsi untuk mu. Aku semakin tidak bisa mencegah pemikiran dan perasaan ku kepada mu.
Dear, aku sungguh mengasihi mu. Apapun yang kamu lakukan, meskipun aku tau bukan niat mu melakukannya terhadap ku, aku tetap mengasihi mu. Aku kecewa, aku sedih, iya, tapi bukan berarti aku tidak mengerti. Aku tetap manusia, aku tetap wanita yang ingin sekali mendapat perlakuan yang lebih istimewa. Seperti kamu memperlakukan aku bak ratu di awal pertemuan kita.
Kemaren, 19 September 2011, keadaan masih sama. Aku mencoba menahan untuk tidak mengejar mu. Malam hari aku menegur mu, kamu mengatakan ingin tidur karena begitu lelahnya hari itu. Maaf dear, aku teramat sangat tidak sanggup menahan kesedihan ku jika aku menunggu mu untuk kembali seperti sosok yang aku rasakan di hati. Bukan berarti aku tidak menerima mu, tapi maaf, aku tidak ingin menjadi beban bagi mu.
Mengejar mu terus menerus disaat kamu lelah untuk berlari merupakan suatu keegoisan bagi ku. Aku akan berhenti, dan membiarkan mu berjalan santai. Nikmati semua nya. Kesakitan, kesedihan, kelelahan, kebahagiaan, kamu akan mendapatkan hal baik dari hal-hal itu.
Malam itu, 22.39, aku memutuskan untuk menjalankan suggest dari mu. Mungkin dengan kita istirahat dari kelelahan ini, kita semakin tau apakah kita saling membutuhkan, atau kamu, betulkan membutuhkan aku. Namun yang terutama, aku tidak ingin kamu tidak nyaman dengan tuntutan ku.
Entah sampai kapan waktu istirahat ini, aku juga tidak tahu. Aku berharap kamu memberikan respon atas keputusan ini. Tapi entah ada kendala apa yang membuat mu tidak merespon, atau mungkin kamu tidak menerima pesan ku? Entah lah.
Aku akan menunggu mu. Aku tetap menerima setiap keadaanm mu. Maafkan aku jika tidak bisa menjadi seperti yang kamu mau.
Dear, kamu mengajarkan aku bagaimana cara untuk mencintai, menyayangi, menahan diri, mengalah, tidak egois bahkan berkorban. Aku ingin yang terbaik terjadi untuk kamu, aku, dan kita.
Menegaskan lagi, aku teramat sangat mengasihimu.
Semoga masa ini tidak membunuh ku.
No comments:
Post a Comment